www.diansastro.20m.com About Biography Photo Poems Tips
 

 

Kekasih sejati 

adalah ketika kamu menitikkan air mata, maka dengan kebesaran cintanya ia tetap peduli terhadapmu.

Sebuah kekuatan abadi  yang ketika kamu tidak mempedulikannya dan dia masih menunggumu dengan setia.. 

Ketulusan sejati adalah Saat Sang kekasih mulai mencintai orang lain dan dia masih bisa tersenyum sembari berkata 'Aku turut berbahagia untukmu‘…  

Hartono Beny Hidayat

 
 

 

Rintihan seorang putri

www.diansastro.20m.com

Diistananya yang megah, seorang putri duduk termenung sambil menatap cakrawala yang jauh....

Seolah bayang-bayang kematian menyelubungi raganya di kegelapaan malam ini....ia laksana seekor merpati yang ingin keluar dari sarangnya , dengan sayap patahnya , ia berusaha  menerobos belenggu yang mengalunginya,  kemudaian terbang keangkasa luas....

Waktu yang dijalani sang gadis didalam sangkar , laksana kematian yang tak berujung....ia hanya bisa menghibur diri dengan derai airmata....karena kesedihan dan duka lara tak mampu ia lawan....

Ketika perasaanya semakin galau dan menyebabkan akal sehatnya terkunci dari pikiran jernihnya , dengan sejuta ratapan dan airmata berlinang ia mengambil pena , kemudian ia  menulis :

Wahai keheningan malam,  dalam rintihan dan duka perpisahan yang mencabik-cabik , aku berusaha menuliskan kisahku ini, kisah nestapa seorang gadis yang menanti datangnya cinta sejati....

Dihari ini , langit telah menggoreskan takdirnya untukku....bahwa aku harus  menjalani hari-hariku ini dengan laki-laki yang bukan untuknya aku diciptakan , dan akan kujalani waktuku ini sesuai kehendak sang waktu.

"Wahai semilir angin malam, keluargaku keluarga yang dengan segala kedudukan dan nilai status sosialnya membuatnya berhasrat untuk melipatgandakan kekayaannya dengan kekayaan yang lebih banyak , serta takut akan kemelaratan ; melapisi kehormatan dengan kehormatan yang lebih tinggi sebagai penolak kenistaan zaman".

"Dibalik genangan air mataku , kudapati diriku menjadi korban, aturan dan adat  istiadat yang dibuat manusia itu sendiri, aku menjadi korban yang dipersembahkan dunia sebagai seorang mempelai perempuan , yang terpaksa bersanding,  serta tunduk kepada kehormatan dan kedudukan , yang menurutku semua itu menyilaukan dan membutakan setiap mata hati yang memandangnya melalui cermin jiwa" .

"Duhai bulan dan bintang , dengarlah kisah sedihku ini.....Ibundaku telah memutuskan untuk menikahkan diriku dengan seorang laki-laki yang kaya dan berkedudukan tinggi.....Aku tidak meragukan harkat dan kehormatan calon suamiku...karena ia seorang laki-laki yang baik dan bermaksud membawaku dalam kebahagiaan serta menyediakan  kemewahan bagi kemuliaanku. Tapi aku merasakan bahwa itu sama sekali tidak berarti dibanding sekilas waktu yang dihabiskan bersama cinta sejati, cinta yang tak memiliki kekayaan apapun tapi tetap agung".

"Aku telah menyaksikan sendiri bagaimana kereta-kereta kuda ditambah dengan  harta kekayaannya yang melimpah  ruah digudang harta , sama sekali tidak sebanding dengan kedip mata pemuda miskin yang telah ditakdirkan untuk diciptakan untukku, dan untuknya aku diciptakan".

"Ia begitu sabar menanti dalam duka serta menahan diri dari duka perpisahan yang mencabik-cabik...."

"Seorang yang menjadi korban keinginan Ibundaku , tanpa kesalahan ia terpenjara dalam jeruji waktu".....

Pada saat itu sang dara berhenti menulis, airmatanya yang jernih menetes dari kelopak jiwa, ia menyembunyikan wajah cantiknya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu....Hatinya telah memutuskan untuk menuangkan rahasia hatinya yang  terdalam,  diatas selembar kertas yang tintanya berasal dari airmata kesedihan serta  penanya yang terbuat dari anyaman serat-serat jantung.

" Wahai keheningan malam yang bisu, dan seluruh  perempuan  penghuni jagad raya ini....kenanglah kisahku ini, ambilah hikmah yang dapat kau petik, jadilah hawa yang cerdas dan kuat dalam kelembutanmu , .... "

Janganlah engkau menangis untukku....sebab pintu keabadian akan membukakan pintunya ,dan diriku akan  kembali bersama belahan jiwaku diujung keabadian ini.

2002

Home